PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa
nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah
yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-
bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga
daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang
berani hidup
Aku suka pada mereka yang
masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi,
terlucut debu......

Posted by
G I O

More

GUGUR

GUGUR
Oleh : W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan
gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut
kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari
kotanya

Posted by
G I O

More

Gerilya

Gerilya
Oleh : W.S. Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di
punggung
melihatnya pertama

Posted by
G I O

More

Doa Seorang Serdadu SebelumPerang

Doa Seorang Serdadu Sebelum
Perang
Oleh : W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota
terbakar
dan firmanMu terguris di atas
ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di
bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati
yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan
sangkurku

Posted by
G I O

More

Aku Tulis Pamplet Ini

Aku Tulis Pamplet Ini
Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat
umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam
kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng– iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan
menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Posted by
G I O

More

Sajak Sebatang Lisong

Sajak Sebatang Lisong
Oleh : W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta
kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan
yang macet,
dan papantulis-papantulis para
pendidik
yang terlepas dari persoalan
kehidupan.

Posted by
G I O

More
kaki langit

attention

ini gue, wahyu, sekarang lagi pengen move on tetapi jadi move off...
entahlah...
cocoa coklu

Rabu, 22 Juni 2011

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa
nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah
yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-
bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga
daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang
berani hidup
Aku suka pada mereka yang
masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi,
terlucut debu......

GUGUR

GUGUR
Oleh : W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan
gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut
kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari
kotanya

Gerilya

Gerilya
Oleh : W.S. Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di
punggung
melihatnya pertama

Selasa, 21 Juni 2011

Doa Seorang Serdadu SebelumPerang

Doa Seorang Serdadu Sebelum
Perang
Oleh : W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota
terbakar
dan firmanMu terguris di atas
ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di
bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati
yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan
sangkurku

Aku Tulis Pamplet Ini

Aku Tulis Pamplet Ini
Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat
umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam
kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng– iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan
menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Sajak Sebatang Lisong

Sajak Sebatang Lisong
Oleh : W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta
kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan
yang macet,
dan papantulis-papantulis para
pendidik
yang terlepas dari persoalan
kehidupan.

news

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / This is me ^_^

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger